Menyediakan Aneka jenis Pempek, Kerupuk, Kemplang, Tekwan Kering serta Kuliner Khas Palembang
Tampilkan postingan dengan label rupa-rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rupa-rupa. Tampilkan semua postingan
Jumat, 08 Juni 2012
Rabu, 06 Juni 2012
Menyimpan dan Menyajikan Pempek
Saran penyimpanan :
Segera masukkan pempek yang telah anda terima ke dalam lemari pendingin (FREEZER)
untuk menjaga kesegaran dan citarasanya apabila pempek tersebut tidak langsung akan dikonsumsi.
Pempek beku dapat bertahan kurang lebih dua minggu sejak tanggal pembuatan dengan penyimpanan yang baik.
Pengolahan serta penyajian:
Keluarkan pempek beku dari dalam lemari pendingin (FREEZER)
Rendam pempek menggunakan air dengan suhu normal,diamkan sebentar dan biarkan mencair alami
Setelah mencair dengan sempurna,segera cuci bersih pempek tersebut
Rebus / kukus beberapa saat, tiriskan
Setelah itu pempek bisa digoreng atau langsung disajikan bersama cuko
Segera masukkan pempek yang telah anda terima ke dalam lemari pendingin (FREEZER)
untuk menjaga kesegaran dan citarasanya apabila pempek tersebut tidak langsung akan dikonsumsi.
Pempek beku dapat bertahan kurang lebih dua minggu sejak tanggal pembuatan dengan penyimpanan yang baik.
Pengolahan serta penyajian:
Keluarkan pempek beku dari dalam lemari pendingin (FREEZER)
Rendam pempek menggunakan air dengan suhu normal,diamkan sebentar dan biarkan mencair alami
Setelah mencair dengan sempurna,segera cuci bersih pempek tersebut
Rebus / kukus beberapa saat, tiriskan
Setelah itu pempek bisa digoreng atau langsung disajikan bersama cuko
Sejarah Pempek
Pempek atau Empek-empek adalah makanan khas Palembang yang terbuat dari ikan dan sagu. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.
Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek biasanya terdapat 9-13 ppm fluor. satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.
Jenis pempek yang terkenal adalah “pempek kapal selam”, yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama “ada’an”), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa ditemukan dengan gampang di seantero Kota Palembang. Ada yang menjual di restoran, ada yang di gerobak, dan juga ada yang dipikul. Juga setiap kantin sekolah pasti ada yang menjual pempek. Tahun 1980-an, penjual pempek biasa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan makanannya.
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek
Penyajian pempek ditemani oleh saus berwarna hitam kecoklat-coklatan yang disebut cuka atau cuko (bahasa Palembang). Cuko dibuat dari air yang dididihkan, kemudian ditambah gula merah, udang ebi dan cabe rawit tumbuk, bawang putih, dan garam. Bagi masyarakat asli Palembang, cuko dari dulu dibuat pedas untuk menambah nafsu makan. Namun seiring masuknya pendatang dari luar pulau Sumatera maka saat ini banyak ditemukan cuko dengan rasa manis bagi yang tidak menyukai pedas. Cuko dapat melindungi gigi dari karies (kerusakan lapisan email dan dentin). Karena dalam satu liter larutan kuah pempek biasanya terdapat 9-13 ppm fluor. satu pelengkap dalam menyantap makanan berasa khas ini adalah irisan dadu timun segar dan mie kuning.
Jenis pempek yang terkenal adalah “pempek kapal selam”, yaitu telur ayam yang dibungkus dengan adonan pempek dan digoreng dalam minyak panas. Ada juga yang lain seperti pempek lenjer, pempek bulat (atau terkenal dengan nama “ada’an”), pempek kulit ikan, pempek pistel (isinya irisan pepaya muda rebus yang sudah dibumbui), pempek telur kecil, dan pempek keriting.
Pempek bisa ditemukan dengan gampang di seantero Kota Palembang. Ada yang menjual di restoran, ada yang di gerobak, dan juga ada yang dipikul. Juga setiap kantin sekolah pasti ada yang menjual pempek. Tahun 1980-an, penjual pempek biasa memikul 1 keranjang pempek penuh sambil berkeliling Kota Palembang jalan kaki menjajakan makanannya.
Menurut sejarahnya, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-Darussalam. Nama empek-empek atau pempek diyakini berasal dari sebutan “apek”, yaitu sebutan untuk lelaki tua keturunan Cina.
Berdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain. Ia mencampur daging ikan giling dengan tepung tapioka, sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan “pek … apek”, maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek
Lapak Baru Pempek Iwak Gabus
Posting Perdana di lapak baru :)
Sehubungan lapak terdahulu pindah ke lapak baru, dengan ini kami resmi menempati lapak ini dengan nama yang sama tentunya dengan kualitas tetap terjaga.
Kami hadir untuk memuaskan kecintaan rekan-rekan sekalian akan kekayaan kuliner Palembang yang sudah melegenda.
Jl. Mr. Sudarman Ganda Subrata 1672
Palembang-Sumatera Selatan 30130
Email & Facebook: pempekgendum@gmail.com atau butiksongket@gmail.com
Telp/Esia Messenger : 0711 9181999 – lastie
YM : pempek_mang_agus@yahoo.co.id
Semoga rekan-rekan dan pecinta kuliner Palembang semua dapat kami layani dengan lebih baik dan
Selamat datang kembali dan semoga puas dengan pelayanan kami
Salam,
Mang Agus & Lastie
Sehubungan lapak terdahulu pindah ke lapak baru, dengan ini kami resmi menempati lapak ini dengan nama yang sama tentunya dengan kualitas tetap terjaga.
Kami hadir untuk memuaskan kecintaan rekan-rekan sekalian akan kekayaan kuliner Palembang yang sudah melegenda.
Pempekiwakgabus "Mangcek Agus"
Pempek Iwak Gabus Mangcek Agus
Jl. Mr. Sudarman Ganda Subrata 1672
Palembang-Sumatera Selatan 30130
Email & Facebook: pempekgendum@gmail.com atau butiksongket@gmail.com
Telp/Esia Messenger : 0711 9181999 – lastie
YM : pempek_mang_agus@yahoo.co.id
Semoga rekan-rekan dan pecinta kuliner Palembang semua dapat kami layani dengan lebih baik dan
Selamat datang kembali dan semoga puas dengan pelayanan kami
Salam,
Mang Agus & Lastie
Lokasi:
Palembang, Indonesia
Langganan:
Postingan (Atom)









